Ruqyah Itu Bukan Sekadar Muntah dan Reaksi Ngamuk, Tapi Inilah Hakikat Ruqyah Yang Sesungguhnya
Perlu dipahami bahwa ruqyah bukan sekadar ritual, tetapi bagian dari ibadah sunah. Rasulullah ﷺ sendiri meruqyah dan juga diruqyah.
Beliau bersabda:
'لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا
“Tidak mengapa melakukan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan” (HR. Muslim)
Selain itu, ayat-ayat Al-Qur’an bukan sekadar bacaan namun juga sebagai penyembuh (syifa) sebagaimana Allah berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al Isra’ 82).
Saat dibacakan Al-Qur’an, tubuh pasien bereaksi. Anggapan ini sering dianggap sebagai rekasi dalam proses ruqyah, padahal tidak demikian juga.
Memang ada sebagian orang mengalami reaksi fisik yang cukup kuat, namun ada juga yang reaksinya biasa-biasa saja.
Jika pasien tidak bereaksi, di sinilah mulai bertanya apakah tidak ruqyahnya tidak berhasil (efek) atau sebaliknya?
Tanda ruqyah berhasil sering dikaitkan dengan keluarnya gangguan gaib. Baik berupa keluarnya jin atau pengaruh sihir misalnya ditandai dengan reaksi alami dari tubuh.
Seperti muntah berwarna hitam/kuning/putih, bersendawa (glegeken, bahasa Jawa), buang air besar/kecil, bersin, berkeringat, kentut, atau reaksi selainnya.
Ya benar, dalam proses ruqyah, muntah sering terjadi. Namun perlu dipahami, reaksi ini bukan satu-satunya ukuran dan tidak semua orang harus mengalaminya.
Ada juga sebagian pasien merasakan sensasi fisik yang unik—seperti ada sesuatu yang tercabut dari tubuhnya, sakit kepala, sesak, atau selainnya.
Atau merasakan panas berpindah, gatal yang tiba-tiba hilang, atau seperti sengatan listrik. Sensasi ini diyakini bahwa ada sesuatu yang sedang tercabut selama ruqyah.
Meski demikian, di sinilah pentingnya waspada dan kehati-hatian. Karena syariat Islam tidak menjadikan reaksi fisik sebagai tolok ukur utama.
Bisa jadi hal itu bagian dari proses alamiah atau bisa juga karena reaksi tubuh biasa-biasa saja dan semua ini boleh langsung dipastikan tanpa ilmu (syariat).
Paling utama dan penting adalah mendapatkan keberkahan (rahmat) selama ruqyah. Dan sudah pasti setelah ruqyah, 98 persen pasien merasakan tubuhnya lebih ringan.
Hal ini ditegaskan Allah:
وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al A’raf 204).
Al-Qur’an menggambarkan rahmat itu adalah kasih sayang, kelembutan, dan kebaikan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya.
Rahmat diberikan dalam bentuk lahir maupun batin yang mana seseorang bisa menyadari atau tidak kita menyadarinya.
Makna rahmat secara sederhana Adalah kasih saying, pertolongan dan kebaikan dari Allah kepada makhluk-Nya.
Walau begitu, rahmat itu bukan cuma “sayang” tapi juga bisa dalam bentuk yang lain, misalnya:
- Ditutup aibnya
- Diampuni dosanya
- Dilapangkan dadanya
- Diberi hidayah Allah
- Diberi teguran lembut
- Diberi ketenangan hati
- Diberi husnul khatimah
- Dijaga dari penyakit hati
- Dijauhkan dari keburukan
- Diberi lingkungan yang baik
- Dimudahkan untuk bertaubat
- Diberi rasa cukup (qana’ah)
- Diberi kesabaran dalam ujian
- Diberi keikhlasan dalam beramal
- Diberi kekuatan hati (keteguhan)
- Diberi kemudahan dalam hidup
- Diberi perlindungan dari bahaya
- Dan bentuk rahmat Allah selain di atas
Firman Allah:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS. Al A’raf 156).
Tentu saja, rahmat Allah itu luas sekali dan sangat tidak terbatas. Termasuk setelah diruqyah beban yang sebelumnya menekan seolah diangkat perlahan (plong).
Hal ini adalah perubahan yang nyata dan sering dirasakan mereka setelah ruqyah. Selain itu, perubahan dalam hati jauh lebih penting.
Terutama pikiran menjadi lebih tenang, waswas (khawatir) berkurang, dan ketakutan yang dulu menghantui mulai hilang.
Allah telah menegaskan:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar Ra’d 28).
Ada juga perubahan lain dalam ibadahnya. Seseorang yang sebelumnya berat salat, kini merasa lebih ringan.
Yang sebelumnya jauh dari zikir, kini mulai merasakan nikmatnya mengingat Allah. Ini justru tanda yang sangat kuat dari perbaikan diri.
Sebagian juga mengatakan bahwa penyakit fisik yang sebelumnya tidak jelas secara medis mulai membaik. Namun, Islam mengajarkan keseimbangan, ikhtiar medis juga penting.
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً
“Berobatlah wahai hamba Allah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan obatnya” (HR. Tirmidzi).
Ada juga yang mengalami mimpi tertentu setelah ruqyah. Seperti melihat sesuatu keluar dari tubuhnya, atau merasa terbebas dari tekanan.
Mimpi ini sering dianggap sebagai simbol pelepasan, meskipun tetap tidak bisa dijadikan dalil pasti. Semua tanda-tanda di atas bisa terjadi, tetapi tidak wajib terjadi.
Karena kesembuhan bukan diukur dari dramatisnya reaksi, tetapi dari perubahan menuju kebaikan. Bisa jadi seseorang tidak mengalami apa-apa saat ruqyah tapi hatinya menjadi hidup kembali.
Paling penting, ruqyah bagian dari ikhtiar. Kesembuhan sepenuhnya berasal dari Allah. Tidak dari peruqyah dan tidak dari metode, tetapi dari izin Allah semata.
Karena itu, setelah ruqyah, seseorang tidak boleh lengah. Justru harus menjaga diri dengan ibadah, zikir, dan kedekatan kepada Allah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan perlindungan melalui zikir, seperti membaca Ayat Kursiy:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri (tidak bergantung kepada siapa pun). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya? Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung (QS. Al Baqarah 255).
Dalam hadis dijelaskan siapa yang membacanya, akan dijaga oleh Allah dari gangguan setan hingga pagi hingga petang. Ini menunjukkan bahwa benteng utama seorang mukmin adalah zikir.
Perjalanan hidup ini bukan tentang sensasi, tetapi tentang kembali. Kembali kepada Allah, kembali memperbaiki hati, dan kembali menjalani hidup dengan iman sebagai pegangan.
Karena pada akhirnya, tanda ruqyah yang paling berhasil bukanlah muntah atau reaksi tubuh lainnya, tetapi ketika seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah, lebih tenang hatinya, dan lebih kuat dalam menghadapi hidup.
Dan di situlah letak kesembuhan yang sesungguhnya. Bukan hanya pada tubuh, tetapi pada jiwa yang kembali hidup dalam cahaya iman.
Catatan kami selama 26 tahun ini, tanda ruqyah berhasil bukan hanya dilihat dari reaksi sensasi fisik, tetapi dari perubahan yang lebih dalam: hati yang lebih tenang, tubuh yang lebih ringan, dan kedekatan kepada Allah yang semakin kuat.
Kemudian badan lemas setelah ruqyah menandakan bahwa gangguan jin di dalam tubuh sudah melemah, terlepas, atau sedang dalam proses keluar.
Kondisi ini adalah reaksi umum, di mana jin yang merasuki atau mengikat dalam tubuh menjadi lemah akibat pengaruh ayat-ayat Al-Qur’an.
Pada proses penyembuhan, lemas atau lunglai adalah alamiah dan efek terapeutik. Hal itu bukan selalu pertanda buruk. Jika gejala muncul disarankan untuk tetap melanjutkan ruqyah, terutama jika ada ayat-ayat yang memicu reaksi tersebut.